Advertisement

RW Bukan Tukang Stempel! Bahar Dorong BUMDes Masuk Perumahan Wibawamulya

Kabupaten Bekasi, Rajawali Sriwijaya– Kontestasi pemilihan Ketua Rukun Warga (RW) 008 Perum KSB Grande 3 Blok H, Desa Wibawamulya, mulai menghangat. Salah satu kandidat, Bahar, tampil dengan gagasan yang tak biasa: menjadikan RW bukan sekadar struktur administratif, melainkan wadah inspirasi, aspirasi, dan penggerak ekonomi warga.

Dalam keterangannya kepada warga, Bahar menegaskan bahwa posisi Ketua RW menuntut kecakapan lebih dari sekadar kemampuan berbicara. Menurutnya, RW harus diisi oleh sosok yang memiliki kapasitas sumber daya manusia (SDM), visi pembangunan, serta keberanian mendorong perubahan nyata di lingkungan.

“Sebagai warga Perum KSB Grande 3 Blok H, kita harus cerdas memilih Ketua RW. Bukan sekadar cakap bicara, tapi mampu menciptakan perubahan signifikan, khususnya dalam tatanan ekonomi warga,” tegas Bahar.

BUMDes Tak Boleh Eksklusif, Perumahan Harus Terlibat

Salah satu sorotan utama yang diangkat Bahar adalah minimnya keterlibatan warga perumahan dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Ia menilai, selama ini BUMDes belum menyentuh potensi besar yang ada di kawasan perumahan, termasuk KSB Grande 3.

Padahal, menurutnya, jika BUMDes dikelola secara serius dan inklusif dengan melibatkan warga perumahan, desa akan memiliki peluang besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).

“Selama ini belum ada BUMDes yang masuk dan dikelola bersama warga perumahan. Padahal kalau dikelola secara profesional dan melibatkan SDM warga, desa pasti maju,” ujarnya.

Bahar menyebut, komitmennya adalah mendorong lahirnya usaha desa berbasis potensi lokal yang benar-benar dikelola dari, oleh, dan untuk masyarakat, bukan hanya segelintir pihak.

RW sebagai Garda Terdepan Pembangunan Desa

Lebih jauh, Bahar menekankan bahwa RW merupakan garda terdepan dalam pembangunan desa. Bukan hanya soal administrasi, tetapi juga menjaga keamanan, kenyamanan, dan kebersamaan warga.

Ia mengajak masyarakat untuk kembali menguatkan nilai persatuan tanpa memandang suku, etnis, maupun latar belakang, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan nilai luhur Pancasila.

“Kita ini rakyat yang menyatu. Kebersamaan harus kita kembalikan. Gotong royong adalah warisan nenek moyang yang tidak boleh hilang,” katanya.

Pernyataan dan gagasan Bahar menjadi penanda bahwa pemilihan Ketua RW 008 kali ini bukan sekadar formalitas, melainkan ujian arah kepemimpinan lingkungan. Apakah RW akan tetap menjadi struktur pasif, atau berubah menjadi motor penggerak ekonomi dan sosial warga.

Kini, pilihan ada di tangan warga Perum KSB Grande 3 Blok H: memilih pemimpin administratif semata, atau sosok yang berani mendorong RW naik kelas sebagai pusat perubahan desa.

(red)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *