Advertisement

Gerak Cepat di Tengah Lambannya Penanganan Banjir: Posko Wilayah #1 LSM KCBI–FPPI SUMUT Salurkan Bantuan ke Padang Tualang dan Sawit Seberang

Rajawali Sriwijaya-, Langkat — Minggu, 7 November 2025.
Banjir yang kembali merendam Desa Padang Tualang dan Sawit Seberang, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, membuka mata publik terhadap lemahnya sistem mitigasi bencana di wilayah tersebut. Puluhan rumah terendam, akses warga terganggu, dan sejumlah fasilitas umum lumpuh akibat tingginya debit air yang meluap dari aliran sungai setempat.

Namun di tengah situasi kritis itu, Posko Wilayah #1 Sumatera Utara LSM KCBI bersama FPPI SUMUT menunjukkan aksi cepat yang dinilai jauh lebih responsif dibanding sejumlah pihak yang seharusnya lebih siap. Gerak cepat ini menjadi sorotan karena dilakukan secara mandiri, tanpa menunggu perintah atau alokasi anggaran resmi.

Aksi Lapangan: Bantuan Datang dari Lintas Komunitas

Posko Wilayah #1 SUMUT, yang dikoordinatori oleh DPC LSM KCBI Deli Serdang, berhasil menghimpun bantuan dari berbagai elemen masyarakat: komunitas pemuda, kelompok pengajian, organisasi LSM, serta donatur individu dari berbagai daerah. Proses pengumpulan dilakukan sejak pagi hari hingga bantuan siap disalurkan pada siang harinya ke wilayah terdampak.

Sumber di lapangan menyebutkan bahwa kondisi banjir sudah berlangsung beberapa hari, tetapi beberapa instansi masih sekadar melakukan pendataan tanpa tindak lanjut nyata. Hal inilah yang mendorong KCBI–FPPI SUMUT turun langsung agar kebutuhan dasar warga tidak terbengkalai.

Koordinasi Cepat: Peran DPC KCBI Deli Serdang

Di bawah komando Sarman, selaku Ketua DPC LSM KCBI Deli Serdang, dan Sekjen I’ien Hasry, tim gabungan bergerak dengan komposisi relawan terlatih di bidang penanggulangan bencana.
I’ien Hasry, yang memimpin di lapangan, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan hasil kerja sama spontan dari para donatur dan relawan yang selama ini sudah aktif dalam kegiatan sosial.

“Kami tidak menunggu siapa pun. Ketika warga membutuhkan, kami bergerak. Semoga bantuan ini bermanfaat bagi yang menerima, dan menjadi berkah bagi semua yang telah menyisihkan rezekinya,” tegasnya.

Ia juga menambahkan harapan agar grup donasi yang terbentuk selama aksi ini terus dipertahankan dan dikembangkan menjadi Relawan Bencana Kemanusiaan di bawah struktur Posko Wilayah #1 LSM KCBI di wilayah Deli Serdang dan sekitarnya.

Membongkar Fakta Lapangan: Ketidaksiapan Sistem Penanganan Bencana

Pada penelusuran di lokasi, sejumlah warga mengaku bahwa mereka belum mendapatkan bantuan memadai sebelum tim KCBI–FPPI hadir. Beberapa bahkan menyebutkan bahwa tekanan air mulai naik sejak dua hari sebelumnya, namun belum ada koordinasi tanggap darurat yang jelas dari aparat terkait.

Aksi KCBI–FPPI ini sekaligus memunculkan pertanyaan besar:
Mengapa organisasi masyarakat bisa bergerak lebih cepat dibanding lembaga resmi yang memiliki anggaran dan wewenang?

Fenomena ini menguatkan dugaan bahwa mekanisme penanganan bencana di beberapa wilayah masih tersendat karena birokrasi panjang dan minimnya koordinasi lintas lembaga.

LSM Bisa Bermanfaat — Bukan Masalah

Aksi nyata ini juga menjadi jawaban telak bagi stigma negatif terhadap lembaga swadaya masyarakat. Selama ini, sebagian masyarakat memandang LSM sebagai kelompok yang sering “ribut” atau hanya mengkritik pemerintah. Namun, melalui aksi tanggap bencana ini, KCBI memperlihatkan bahwa LSM justru mampu hadir sebagai ujung tombak kemanusiaan.

“Ini bukti bahwa LSM bisa memberi kontribusi positif, bukan menjadi lembaga yang buruk di mata masyarakat,” tambah I’ien Hasry.

Apresiasi untuk Para Donatur

KCBI–FPPI SUMUT menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah memberikan dukungan moral maupun materi. Tanpa bantuan mereka, gerakan kemanusiaan ini tidak mungkin berjalan cepat dan tepat sasaran.

Gerakan ini bukan sekadar penyaluran bantuan, tetapi menjadi simbol bahwa solidaritas masyarakat dapat mengalahkan keterbatasan institusi formal.

Langkah Pasti, Tindakan Nyata

Dengan langkah pasti dan tindakan nyata, LSM KCBI kembali menunjukkan jati dirinya sebagai organisasi yang berpihak pada masyarakat, terutama saat mereka membutuhkan uluran tangan.

Gerakan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat jaringan relawan serta mendorong adanya perbaikan menyeluruh dalam sistem mitigasi bencana di Sumatera Utara.
(red)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *